Rabu, 25 April 2012

Hidup Seimbang

Kehidupan di dunia ini ternyata hanya memiliki dua sisi. Ada siang, ada malam. Ada baik, ada buruk. Ada pria, ada wanita. Ada kanan, ada kiri. Bahkan, kita bisa membuat daftar panjang tentang kedua sisi ini secara berpasangan, yakni : kaya-miskin, atas-bawah, luar-dalam, gelap-terang, hidup-mati, tinggi-rendah, besar-kecil, untung-rugi, cepat-lambat, pahit-manis, suka-duka, dan seterusnya.

Jika hidup kita hanya memiliki satu sisi saja, pasti akan pincang alias tidak seimjbang. Kehidupan yang normal biasanya memiliki kedua sisi itu, entah secara berbarengan maupun bergantian. Nah, karena membutuhkan kesimbangan hidup itulah orang menjadi kreatif menciptakan berbagai pola keseimbangan.

Dalam dunia bisnis, misalnya, ada bank syari'ah bagi nasabah Muslim yang menolak bunga bank karena dianggap haram. Dari situ berkembang pula konsep ekonomi syari'ah (berlandaskan agama) guna mengimbangi ekonomi yang terlalu duniawi. Bahkan, kemudian muncul "mystic corporate", semacam manajemen bisnis yang berlandaskan ajaran atau nilai-nilai keagamaan.

Secara bergurau, tetapi baik, orang juga sering mengatakan bahwa kita harus beotak Jerman (cerdas) tetapi berhati Mekkah (beriman); atau, berotak Mercy tetapi berhati sufi. Di dunia hiburan berlaku juga konsep keseimbangan : Jadikan tontonan sekaligus tuntunan.

Senin, 23 April 2012

Pisau Berkarat

Di dapur sebuah rumah kosong yang sejak sembilan bulan lalu ditinggalkan penghuninya ditemukan sebilah pisau dalam keadaan berkarat. Seseorang mencoba untuk membersihkan pisau itu dan mengasahnya. Hampir seharian ia membersihkan dan mengasah pisau itu agar dapat digunakan kembali, misalnya untuk menghapus bawang atau memotong tomat dan wortel. 

 Di belakang rumah kosong itu, ditemukan pula sebilah pisau di bawah timbunan tanah. pisau itu tidak hanya sangat berkarat, tetapi juga sudah tidak dapat digunakan kembali. tampaknya pisau itu telah bertahun-tahun tidak difungsikan dan terpendam di dalam tanah, sehingga menjadi besi tua. 

Otak manusia juga bisa berakhir seperti pisau yang sudah sangat berkarat itu jika tidak digunakan untuk berpikir, sehingga menjadi tumpul, lemah, dan akhirnya bebal alias bodoh.

 Jadi, semakin sering kita menggunakan otak untuk berpikir, otak akan terasah, semakin cerdas, dan pandai. Gunakan selalu otak untuk berpikir, jangan diamkan sehingga bernasib malang seperti pisau dapur yang berkarat !

Sabtu, 21 April 2012

Hukum Adat

Hukum Adat adalah Istilah atau Nama yang digunakan untuk menyatakan suatu hukum yang ada di Indonesia yang tidak tertulis.

Hukum adat disebut juga Hukum tidak tertulis atau Hukum tradisional atau Hukum asli atau dulu ada juga yang mengatakan lembaga kebudayaan atau lembago (sumbar) atau Basa (Batak) atau ngadat (Jawa) yang tidak dikodifikasikan.

Hukum adat disebut juga hukum asli Indonesia karena hukum adat ini diciptakan sendiri oleh bangsa Indonesia dan berlaku secara turun-temurun

Istilah Hukum Adat Muncul :

Hukum adat lebih dahulu muncul dari pada istilah adatnya. Hukum adat sudah ada mulai manusia hidup secara kelompok.
Hukum adat ini ada setelah diadakan penelitian oleh orang Belanda  yang namanya "Snouck Hurgronje" , ia seorang tokoh politik bagi orang-orang Belanda yang menghancurkan hukum-hukum yang ada di Indonesia. konon sejarahnya ia meneliti di Aceh yang ketika itu di Aceh sudah ada 2 hukum , yakni 1. Hukum Tradisional 2. Hukum Islam.

Istilah yang dicetuskan Snouck Hurgronje pertama kali adalah Adat Recht, sekitar abad 1893-1894. Istilah ini mulai dikenal dikalangan Indonesia dan Eropa pada abad 1929.

Dalam mempelajari Hukum Adat kita perlu membedakan antara kebiasaan dengan adat itu sendiri. karena banyak yang beranggapan bahwa kebiasaan dengan adat itu sama, padahal berbeda.

Kebiasaan adalah Suatu perbuatan yang dilakukan secara berulang-ulang dalam bentuk yang sama, dilakukan oleh orang perorangan, tidak diakui oleh penguasa adat, tidak merupakan aturan dan tidak bersifat mengikat.
.
Unsur-unsur kebiasaan :
1. Adanya perbuatan
2. Secara berulang-ulang
3. Bentuk yang sama
4. Orang perorangan
5. Tidak diakui oleh penguasa adat
6. Tidak merupakan aturan
7. Tidak mengikat

Adat adalah Suatu perbuatan yang dilakukan secara berulang-ulang dalam bentuk yang sama, dilakukan oleh masyarakat, diakui oleh penguasa adat, merupakan aturan dan bersifat mengikat.

Unsur-unsur Adat :
1. Adanya perbuatan
2. Secara berulang-ulang
3. Bentuk yang sama
4. Dilakukan oleh masyarakat
5. Diakui oleh penguasa adat
6. Merupakan aturan
7. Mengikat

Kebiasaan bisa menjadi adat apabila terpenuhi unsur-unsur adat diatas, dan pada prinsipnya setiap adat berawal dari kebiasaan, tetapi setiap kebiasaan belum tentu menjadi adat.

Kapan adat bisa dikatakan sebagai hukum Adat?
Adat bisa berubah menjadi hukum adat apabila terpenuhi unsur-unsur adat dan ditambah sanksi. kalau tidak ada  sanksi dinamakan adat saja.

Definisi hukum adat menurut Para Ahli :

1. Van Vollen Hoven, Hukum Adat adalah Hukum yang tidak bersumberkan dari pemerintahan hindia belanda akan tetapi di adakan sendiri oleh penguasa adat.

2. Soepomo (Supomo), Hukum Adat adalah Suatu peraturan-peraturan yang tidak tertulis di dalam peraturan legislatif, akan tetapi peraturan tersebut tetap dipertahankan di dalam pergaulan hidup masyarakat dengan berdasarkan keyakinan bahwasanya peraturan-peraturan tersebut mempunyai akibat hukum.

3. Soekanto (Sukanto), Hukum Adat adalah Hukum yang tidak dikodifikasikan (dibukukan) bersifat memaksa dan mempunyai sanksi.

4. Vandijle, Hukum Adat adalah Istilah untuk menunjukkan hukum yang tidak dikodifikasikan di kalangan masyarakat Indonesia asli dan dikalangan timur asing.

5. Bellefroid, Hukum Adat adalah Peraturan-peraturan yang tidak di undangkan oleh penguasa akan tetapi peraturan-peraturan tersebut di hormati dan di pertahankan oleh masyarakat berdasarkan keyakinan bahwasanya peraturan-peraturan tersebut berlaku sebagai hukum.

Sumber-sumber Hukum Adat :

1. Hukum Adat bersumberkan dari kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang bersifat tradisional atau bersifat turun temurun.

2. Hukum Adat bersumberkan dari kebudayaan-kebudayaan yang ada di dalam masyarakat.

Adapun sarana untuk mencari hukum adat terdapat pada pepatah-pepatah adat yurisprudensi hukum adat hasil penelitian yang dilakukan oleh para peneliti hukum adat, selain itu juga yang menjadi sarana untuk mengetahui hukum adat adalah keputusan-keputusan atau undang-undang yang dibuat oleh raja-raja atau kepala adat yang terdahulu dan juga bisa melalui buku-buku yang diklarang oleh para ahli hukum adat.

Yurisprudensi : Kumpulan keputusan-keputusan yang diputuskan kepala adat.

Dasar berlakunya hukum adat :
Ada 2 periode atau masa :

1. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda
2. Pada masa kemerdekaan

Pada masa kolonial Belanda terdapat beberapa pasal tentang dasar berlakunya hukum adat :

1. Pasal 75 RR (Regering Reglement), Isinya : Memperlakukan ketentuan-ketentuan hukum yang berhubungan dengan agama dan kebiasaan.
2. Pasal 78 RR, Isinya : Apabila terjadi perselisihan perdata antara masyarakat pribumi yang beragama Islam akan diselesaikan oleh hakim agama atau kepala adat menurut hukum agama atau hukum adat.
3. Bagi golongan hukum Indonesia asli dan timur asing berlaku hukum adat mereka.
4. Apabila terjadi perselisihan perdata antara masyarakat pribumi yang beragama Islam akan diselesaikan oleh hakim agama menurut hukum agama sepanjang tidak bertentangan dengan hukum adat atau sepanjang tidak ditentukan lain oleh suatu ordonantie.

Pada masa kemerdekaan

Terdapat beberapa pasal yang menyatakan dasar berlakunya hukum adat pada masa kemerdekaan :

1. Pasal 23 ayat I UU no. 14 Tahun 1970, Isinya : Setiap keputusan pengadilan selain harus memuat dasar-dasar atau alasan-alasan keputusan harus pula memuat dasar-dasar hukum dari yang bersangkutan yang dalam hal ini adalah hukum adat.




Rabu, 18 April 2012

Jagalah Ucapanmu

Manusia adalah makhluk sosial, artinya manusia tidak dapat hidup sendiri memenuhi kebutuhan hidupnya, jangankan untuk makan dan minum, untuk senyum saja kita butuh orang lain. Coba saja senyum-senyum sendiri orang bakalan nyangka kalau kita gila, hehe.. itu buktinya betapa kita sangat butuh orang dalam kehidupan ini.

Sebagai makhluk sosial sudah barang tentu kita berinteraksi dengan manusia lainnya, baik itu orang yang kita kenal, seperti Keluarga, teman dan lain-lain atau orang yang baru kita kenal ataupun orang lain yang tidak kita kenal.

Dalam berinteraksi tersebut, harus punya etika dan akhlak. Salah satunya adalah dengan menjaga ucapan kita, maksudnya adalah menjaga ucapan yang dapat membuat orang lain tersinggung dan menyebabkan hubungan baik kita dengan dia terputus, kalau dulu jadi kawan sekarang jadi lawan.

Ingat !! kata pepatah : “Seribu teman itu masih kurang, tetapi satu musuh sudah terlalu banyak.” Kalau rasanya ucapan kita tidak membawa manfaat atau malah membuat suasana kisruh tentu lebih baik diam. Lebih baik kita banyak mendengar dari pada banyak berbicara, ini sebenarnya mengapa Tuhan menciptakan kita dengan dua telinga dan satu mata.

Terkadang, becanda dengan teman yang biasa dengan kita pun harus menjaga ucapan, jangan becanda lepas kontrol walaupun maksud kita bukan untuk merendahkan dia, tetapi disinilah terkadang manusia cepat tersinggung dan membawa hubungan menjadi runyam.

Karena manusia tidak selamanya berada dalam suasana gembira, pasti ada saat-saat dimana  kita bersedih dan tertimpa masalah, mungkin di saat kita becanda kondisinya sedang banyak masalah bukannya senyum yang diberikan kepada kita tapi bisa saja seucap kata kasar yang belum pernah kita dengar sebelumnya dari mulutnya. 

Dari itu sahabatku, Jagalah Ucapanmu !!! Bicara itu perak , diam itu emas.. dan kita tahu bahwa emas itu lebih berharga dari pada perak.

Sudahkah Saya Belajar?


Komunikasi merupakan hal penting dalam perolehan informasi. Namun, perlu ditunjang kemampuan interpretasi yang baik. Salah mengartikan informasi juga bisa berakibat fatal. Proses interpretasi yang baik harus dilakukan melalui proses pembelajaran yang benar. Informasi dan pengetahuan tidak cukup didengar sekali, dua kali, tapi harus dimaknai melalui tahap belajar yang benar.

Seperti kata filsuf, “Hidup tidak bermakna jika tidak dimaknai.” Demikian halnya masa-masa kuliah. Waktu, setiap detik yang kita lalui, itu sebuah anugerah, pemberian Tuhan buat kita. Bagaimana kita mengisinya, itu pemberian kita buat Tuhan. Bagaimana cara kita belajar menentukan bagaimana kita paham dan mampu memaknai apa yang kita pelajari. Akhirnya, orang yang mampu memaknai akan mudah untuk mengaplikasi segala ilmu dan teori yang dipelajari.

Seorang lulusan yang selalu merendahkan dirinya dengan berkata, “Ah .. . . kuliah itu kan Cuma teori. Praktiknya beda banget, bo!” belum tahu bagaimana cara belajar. Sungguh kasihan, ia adalah salah satu lulusan “gagal”. Seperti belajar memaknai Seni Perang, setiap informasi yang diperoleh perlu dimaknai dulu, baru bisa berguna dan menjadi pengetahuan yang sebenarnya. “Kamu tidak akan pernah merasa betapa manisnya jeruk jika hanya menjilat kulitnya.” Begitulah seharusnya mereaksikan pikiran atas informasi yang diperoleh. Ada tiga tahap belajar :

 1.  Ketahui (knowing). Kalau kamu membaca sekali saja sebuah informasi (dalam buku), kamu baru dikatakan belajar tahap paling dasar; dan hasilnya, Cuma mengetahui apa yang sedang kamu baca. Dalam hal inni, pembelajar telah memecahkan pertanyaan WHAT I Learned.

      2.  Pahami (understanding). Pada tahap ini, seseorang tidak hanya tahu, tapi lebih pada paham atau mengerti apa yang sedang ia baca. Tahap ini ditandai dengan pembelajar mampu menerima argumentasi logis (otak kiri) dari pemberi informasi/penulis buku. Untuk mencapai tahap ini, sebuah informasi harus dibaca berulang-ulang hingga pikiran kita mampu merespons. Dalam hal ini, pembelajar memecahkan pertanyaan HOW it (what I learned) could be.

     3. Maknai (meaning). Ini adalah tahap belajar tertinggi. Seseorang dikatakan belajar sesungguhnya jika sudah pada tahap mampu memaknai. Proses ini harus melibatkan kerja otak kiri, otak kanan, dan hati. Tidak cukup dibaca berulang, tapi harus direnungkan hingga kita memperoleh intisari utama. Intisari dasar atau hikmah inilah yang nanti memampukan seseorang untuk mengaitkan apa yang dipelajari dengan dinamika lingkungan yang dihadapi, dimana pun ia berada. Pembelajar dalam tahap ini tidak bingung lagi memilah mana teori dan mana praktik karena ia paham bagaimana mengambil hikmah sebuah teori, kemudian mengaplikasikannya dalam dunia praktik. Dalam hal ini, pembelajar telah memecahkan pertanyaan WHY it could be.

Teori bisa diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Kalau kamu benar-benar belajar, tidak ada yang sulit karena semua ilmu datangnya dari kehidupan itu sendiri. Coba saja bagaimana si aneh Newton menemukan teori gravitasi. Saat itu, ia hanya melihat apel jatuh dari pohon, tapi lihat bagaimana Newton mampu mempelajari fenomena ini hingga tingkat pemaknaan. Contoh lain, Archimedes yang terkenal dengan teori berat jenis benda padat dan air. Konon saat itu, ia sedang mandi dan memperhatikan air yang tumpah saat ia masuk kedalam bak mandi. Ia menemukan sesuatu dan berteriak “Eureka!!!” Mungkin setelah ini kamu menemukan (usulan) teori baru dari hal sederhana di sekitar kamu.

Senin, 16 April 2012

Ayo Bergerak

Jangan bergerak ! Apa yang anda bayangkan jika membaca atau mendengar kata-kata tersebut? Pasti yang terbayang seorang penjahat sedang menodongkan pistolnya ke arah korban. Lalu, dia meminta uang atau barang. Dia melarang sang korban bergerak. Jika bergerak atau melawan, dia mengancam akan menembaknya. Dalam konteks ini, bergerak berarti negatif, bahkan berbahaya.

Padahal, bergerak itu penting dan positif. Orang yang tidak mau bergerak, misalnya duduk-duduk saja, justru membahayakan dirinya. Tak percaya? Sejumlah penelitian menyebutkan bahwa orang yang banyak menghabiskan waktunya dalam posisi duduk terancam mengalami peningkatan berat badan, terkena serangan jantung, bahkan mengalami kematian.

"Setelah anda duduk empat jam, tubuh anda akan mengirimkan sinyal-sinyal tanda bahaya," kata Elin Ekblombak, ahli kesehatan dari Swedish School of sport and Health Sciences. Dikatakan, akibat terlalu banyak duduk, sel-sel yang mengatur kadar glukosa dan lemak dalam tubuh mulai tidak berfungsi.

Ahli fisik dari WHO, Tim Amstrong, juga menyarankan mereka yang terpaksa bekerja dengan duduk dalam waktu lama untuk berolahraga setiap hari, misalnya berdiri sejenak, menggerakkan badan dan kaki, jangan duduk yterus menerus.

Bergerak juga bisa berarti bergeser, berubah, atau dinamis. Tidak mandek. Tidak statis. Orang di dalam air tidak tenggelam karena dia bergerak dengan cara berenang. Orang-orang sukses di bidang apapun adalah orang-orang yang bergerak. Jadi, bergerak itu positif. Jangan diam saja, ayo bergerak !

Minggu, 15 April 2012

Motto Pemadam Kebakaran

Pantang pulang sebelum api padam

Suatu siang, seorang guru taman kanak-kanak mengajak murid-muridnya mengunjungi markas pemadam kebakaran. Dia ingin memperkenalka pekerjaan ini kepda murid-muridnya. setibanya disana, mereka disambut beberapa petugas dan langsung diperlihatkan beberapa mobil pemadam serta alat-alat yang digunakan saat memadamkan api di lokasi kebakaran.

"Anak-anak, ini namanya dinas pemadam kebakaran. bapak-bapak disini bertugas memadamkan rumah atau gedung yang kebakaran. kalian pasti pernah melihat mobil pemadam warna merah dijalan raya meraung-raung, itu bunyi sirenenya. Dari mobil pemadam itu air akan disemprotkan ke rumah yang sedang dilalap api. Berkat kerja keras bapak-bapak inilah kebakaran bisa dicegah agar tidak meluas dan menimbulkan banyak korban," jelas sang guru kepada muridnya, di depan beberapa petugas pemadam kebakaran.

Sang guru mungkin lupa bahwa selain alat-alat pemadam kebakaran, para petugas pemadam kebakaran juga memiliki semboyan yang sangat bagus, sebagaimana yang telah dicuplik di atas, yaitu : "Pantang Pulang Sebelum Api Padam!". Artinya, para petugas pemadam kebakaran tidak akan dan tidak boleh meninggalkan lokasi kebakaran sebelum api benar-benar berhasil dipadamkannya. Petugas pemadam kebakaran harus terlebih dahulu memadamkan api, setelah itu mereka baru diizinkan untuk meninggalkan lokasi kebakaran.

Motto tersebut sesugguhnya mengandung tekad yang membara dan semangat yang menggelora. Dan, motto itu juga dapat diajarkan kepada murid-murid TK. Jika pekerjaan belum tuntas, tidak boleh berhenti. Jika tujuan belum sampai, tidak boleh berhenti atau kembali. Jika cita-cita belum tercapai, tidak boleh menyerah. Lakukan, lakukan, dan lakukanlah, hingga semua tercapai dan terselesaikan.

Begitulah prinsip orang-orang sukses meraih keberhasilan dalam hidupnya. mereka pantang menyerah karena mereka tahu bahwa kemenangan sudah dekat. Makanya, mereka terus dan terus mengupayakannya, hingga benar-benar meraihnya.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger